Pada suatu hari
di bulan Ramadhan, saya pernah diminta salah seorang pengurus masjid untuk
menjadi imam shalat isya dan tarawih sekaligus memberikan kultum di antara
kedua shalat tersebut untuk malam itu. Awalnya saya agak keberatan karena
jarak masjid dan rumah saya cukup jauh. Namun ia tetap meminta dan “memaksa”
saya hingga akhirnya saya sanggupi permintaanya.
Seusai shalat
maghrib di masjid dekat rumah, dengan
mengendarai sepeda motor kesayangan,
saya segera bergegas menuju ke masjid di mana saya diminta menjadi imam.
Setelah kurang lebih 30 menit, akhirnya saya tiba di masjid tersebut tepat saat
adzan isya berkumandang.
Ketika shalat tarawih, setelah al-fatihah saya membaca sekian ayat pertama dari surah
al-baqarah. Rakaat pertama dan kedua saya membaca ayat … dan rakaat kedua saya melanjutkannya dari
ayat … . Rakaat pertama dan kedua berjalan lancar, tidak ada masalah.
Pada rakaat ketiga, ketika ayat … , mendadak saya lupa lafadz apa yang
akan saya baca. Saya mengulangi dari awal ayat hingga beberapa kali. Akan
tetapi setiap saya sampai pada
lafadz yang “hilang” tersebut lidah saya
hanya terdiam dan pikiran saya “blank. Hingga saya mau mengganti surah dengan surah al-ikhlas pun, surah paling
familiar dengan ayat-ayat pendek, saya tidak tahu bagaimana mengawalinya,
karena saya juga lupa ayat pertamanya.
Rakaat keempat,
ternyata ujian belum selesai.
Aneh, tiba-tiba
saja saya ingat lafadz yang ‘hilang’ tersebut dan saya baca lagi di rakaat
keempat. Lebih aneh dan parahnya lagi saya masih saja salah.
Setelah
serangkaian tarawih dan witir selesai, saya menangis dan merenungkan
apa yang membuat hal ini terjadi. Terlintas di pikiran saya kejadian sore
tadi saat memutuskan surah yang akan saya baca. Hati saya berkata “saya baca sekian
ayat pertama al-baqarah saja, yang sudah pasti hafal dan lancar ”.
Saya sadar, betapa sombongnya saya saat merasa
‘bisa’ tanpa memohon pertolongan kepada Allah untuk diberikan kelancaran
membaca ayat-ayat suci-Nya. Dan betapa sombongnya saya saat merasa ‘sudah pasti hafal dan lancar’ padahal
kepastian sesuatu itu adalah wewenang-Nya. Saya malu karena sering memberikan
ceramah untuk menghindari sikap sombong (takabbur) tetapi ternyata saya masih
harus banyak belajar untuk bersikap tawadhu.
Malam itu saya mendapatkan ‘teguran dan pelajaran’
luar biasa dari Allah. Sehebat apa pun anda tetaplah bersikap tawadhu’ dan
selalu libatkan Allah dalam setiap aktivitas anda di mana pun dan kapan pun.
Mohonlah pertolongan kepada-Nya di setiap urusan anda karena tidak kekuatan dan
pertolongan melainkan berasal dari-Nya.
Maasyaa Allaah... Laa haula Walaa Quwwata Illaa billaahil 'Aliyyil 'adhiim....Terimakasih atas shring nya... Semoga Allah Mengampuni segala dosa dan kesombongan saya.... Anda telah menyadarkan saya... Matursuwun.... Salam Sehat dan Ta'dziim untuk anda...
BalasHapus